Kisah
ini saya kutip dari terjemahan buku “The Parable of Pipeline” tulisan
Burke Hedges dan Steve Price, belum jelas apakah ini kisah nyata atau
fiksi namun mengandung ibrah yang cukup baik dijadikan bahan renungan.
Saat itu tahun 1801.
Pada sebuah lembah di Italia.
Pada
zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara
sepupu yang tinggal di tempat itu.Keduanya dikenal punya semangat dan
ambisi yang kuat untuk mencapai kemajuan. Yang pertama bernama Pablo,
yang kedua bernama Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan
di desa kecil dalam lembah itu.
Keduanya adalah
pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Keduanya juga
memendam cita-cita yang sama tingginya.Keduanya sama-sama ingin
menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.
Keduanya
sering berkhayal suatu ketika nanti mereka akan menjadi orangyang
paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat
tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk
mewujudkan impian itu. Kata pepatah untuk menjadi sukses kesiapan
haruslah bertemu dengan kesempatan. Dan keduanya sama-sama siap.
Pada
suatu hari apa yang mereka tunggu selama ini datanglah. Kesempatan itu
muncul secara tiba-tiba. Kepala desa itu memutuskan mempekerjakan dua
orang itu membawa air dari sungai yang terletak di pinggir desa ke
tempat penampungan air yang terletak di tengah desa itu. Pekerjaan itu
dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.
Tidak
menunggu perintah selanjutnya keduanya langsung membawa dua buah ember
dan segera menuju sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan
ember. Menjelang sore tempat penampungan air sudah penuh sampai ke
permukaan. Kepala desa menggaji keduanya berdasar jumlah ember air yang
masing-masing mereka bawa.
“Wow ”. “Apa yang
kita yang kita cita-citakan selama ini akan terkabul.” teriak Bruno
gembira. “Rasanya sulit dipercaya kita mendapatkan penghasilan sebanyak
ini.”
Namun Pablo tidak behenti sampai di situ.
Dia tidak yakin begitu saja. Pulang ke rumah Pablo merasakan punggungnya
nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu
disebabkan dua ember berat berisi air yang dibawanya bolak-bbalik dari
sungai ke penampungan air sepanjang hari tadi. Begitu pagi tiba,
perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung
dan tangannya bermasalah lagi, Pablo justru berpikir keras mencari akal
bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus
terluka, tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan
hal itu seumur hidupnya.
Pablo, Si Manusia Saluran Pipa
“Bruno,
aku punya rencana,” kata Pablo keesokan harinya setelah semalam tak
bisa tidur memikirkan jalan keluar pekerjaan mereka. Sambil membawa
ember mereka masing-masing dan mereka pun menuju ke sungai, Pablo
melanjutkan, “Daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke
sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak
sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”
Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
“Saluran
pipa air! Ide dari mana itu ! Kata Bruno tegas. “ “Kita kan sudah
mempunyai pekerjaan yang sangat bagus dan menghasilkan uang dengan
mudah, Pablo.”
“Aku bisa membawa 100 ember
sehari dengan upah 1 sen per ember. Berarti penghasilan kita bisa 1
Dollar perhari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap
akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir
bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku
bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan
semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagi pula, pada setiap akhir
minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti
dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak
dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun
saluran pipa air itu.”
Tapi Pablo tidak putus
asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan
bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Bruno
tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pablo.
Akhirnya
Pablo memutuskan untuk kerja paroh waktu saja. Dia tetap bekerja
mengangkuti ember-ember air itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur
akhir minggunya dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.
Sejak
awal melakukan pekerjaannya ini dia telah menyadari akan sangat sulit
membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah
keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan
luka lecet dan punggungnya nyeri karena mengangkut air.
Pablo
juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah
ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis
menurun. Ia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu 1 atau 2
tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang
diharapkan.
Namun, Pablo tak pernah kendor
dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab
itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah. Melihat apa yang dilakukan
Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka
menyebutnya “Pablo si Manusia Saluran Pipa.” Bruno, yang punya
penghasilan 2 kali lipat dibandingkan Pablo hampir setiap saat
membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu
mengatakan Pablo bodoh, karena telah meninggalkan pekerjaan yang
jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.
Bruno
juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang
terbuat dari kulit yang baru. Ia menambatkan keledainya itu di rumah
barunya yang kini terdiri dari 2 lantai itu. Ia juga membeli baju-baju
yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung.
Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini orang-orang desa
memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya kemanapun ia pergi.
Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya dengan
minum-minum di bar. Karena mereka selalu ikut tertawa ketika ia
menceritakan lelucon-leluconnya.
Tindakan-tindakan Kecil dengan Hasil Besar
Kini, pemandangan kontras mulai tampak diantara kedua sahabat itu. Sementara Bronu asyik terbaring santai di hammock (tempat
tidur gantung berupa jaring). Pada sore hari, pada akhir minggu, Pablo
tampak terus berlelahan keringat menggali saluran pipanya. Pada
bulan-bulan awal, Pablo memang tak menunjukkan hasil apapun dari
usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat bahkan jauh lebih
berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno, selain harus tetap bekerja
pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.
Tapi
Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan
itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan
hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Centi demi centi!
Pepatah
yang selalu diingat Pablo adalah sedikit demi sedikit, lama-lama
menjadi bukit. Dia selalu bersenandung tiap mengayunkan cangkulnya ke
tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua
centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus
meter dan seterusnya….Pablo mulai melihat hasil kerja kerasnya….
Ibarat
pepatah yang lainnya lagi, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang
kemudian. Kata-kata itu selalu dia tanamkan pada dirinya setelah dia
kembali ke gubuknya yang sederhana, sepulang dari bekerja. Tubuhnya amat
lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa
memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya. Caranya adalah setiap
hari dia menetapkan sasaran yang akan dicapainya. Lalu dia akan berusaha
keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja
kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada
tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.
“Fokuslah
pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu.” Kata-kata itu
terus diingat Pablo. Dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur.
Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar
gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi. Fokus, fokus, fokus…
dan imbalannya pasti jauh lebih besar.
Keadaan Menjadi Terbalik
Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo
menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia
hanya perlu berjalan separoh dari jarak yang biasa ia tempuh untuk
mengambil air danau itu. Waktu yang tersisa, kini ia gunakan untuk
menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipa pun
semakin dekat dan nyata….
Setiap saat
beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja
mengangtak ember-ember. Bahu Bruno juga sudah tampak semakin lama
semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering
berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lambat akibat kerja
keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa
“ditakdirkan” untuk terus-menerus mengangkat ember-ember setiap hari
sepanjang hidupnya.
Bruno juga jarang tampak
bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat
di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar biasanya
akan berbisik, “eh, lihat, Bruno, si manusia ember.” Mereka juga saling
tertawa geli saat beberapa orang mabuk menirukan postur tubuh Bruno
yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok.
Bruno tidak pernah lagi mentraktir teman-temannya di bar, atau
menceritakan lelucon-lekucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk
sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di
sekelilingnya.
Akhirnya terjadi juga kegemparan
di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipa yang ia bangun
sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir
dari saluran pipanya menuju penampungan air di desa. Sekarang, desa itu
sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan, penduduk
desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah
mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.
Setelah
saluran pipa selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya
akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu
terus mengalir, baik saat dia sedang makan, tidur ataupun bermain-main.
Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak
permainan. Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula
uang yang mengalir ke kantong Pablo.
Pablo yang
tadinya terkenal dengan sebutan ‘Pablo Si Manusia Pipa’, kini menjaid
lebih terkenal dengan sebutan Pablo Si Manusia Ajaib. Para politisi
memuji-muji dia karena visinya jauh ke depan. Mereka bahkan meminta
Pablo untuk mencalonkan diri sebagai wali kota. Tetapi, Pablo paham
sekali apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini
semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita
yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh
lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.
Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaannya ke seluruh dunia!
Mengajak Teman-temannya untuk Membantu
Saluran
pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaan. Pablo sangat
prihatin melihat sahabatnya itu sampai merasa perlu mengemis-ngemis
minuman di bar. Karena iba, Pablo berniat menemui Bruno.
“Bruno, saya datang kesini untuk meminta bantuanmu,” kata Pablo.
Bruno meluruskan dulu bahunya yang bengkok, baru menjawab, “Kau jangan menghina saya.”
“Tidak.
Saya datang kesini bukan untuk menghina. Saya justru ingin menawarkan
peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk
menyelesaikan pembangunan pipa saya yang pertama. Tetapi, selama dua
tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat-alat apa
saja yang harus digunakan. Saya juga lebih paham tempat mana yang harus
saya cangkul duluan, dan tempat mana yang keras dan sulit dicangkul.
Saya juga semakin mengerti di mana seharusnya menanam pipa-pipa itu. Dan
selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat apa yang saya telah saya
lakukan. Oleh sebab itu, sekarang ini saya sudah memapu mengembangkan
sebuah cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa
lainnya. ”
Setelah diam sejenak, Pablo
melajutkan. “Sebetulnya saya bisa saja membangun saluran pipa itu
sendirian dalam waktu setahun. Tetapi rasanya sayan harus berpikir,
untuk apa saya harus menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun
satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan
orang-orang lain yang tertarik, cara membangun saluran pipa. Nantinya,
kamu dan orang-orang yang sudah saya ajari ikut mengajarkan lagi kepada
orang-orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya…. Sampai sutau saat
nanti, setiap desa di wilayah ini sudah memiliki saluran pipa. Lalu
saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Bahkan akhirnya
pipa-pipa seperti ini akan ada di semua desa seluruh dunia.”
“Coba
kamu renungkan baik-baik,” lanjut Pablo, “nantinya kita bisa mengutip
sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui
saluran-saluran pipa tersebut. Semakin banyak air yang mengalir melalui
saluran-saluran pipa, semakin banyak pula uang yang masuk ke kantong
kita. Pipa yang baru selesai saya buat ini, sebenarnya bukanlah akhir
dari cita-cita saya. Justru pipa saya itu merupakan awal dari
cita-cita.”
Akhirnya, Bruno menyadari betapa
betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia
tersenyum, kemudian mengacungkan tangannya yang lecet-lecet kepada
sahabatnya. Mereka berjabat tangan, kemudian berpelukan. Bagaikan dua
orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.
Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Pembawa Ember
Tahun
demi tahun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran
pipa mereka yang mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dolar
per tahun ke rekening-rekening bank mereka. Ketika mereka berjalan-jalan
di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa orang pemuda. Mereka
tampak sangat sibuk mengangkuti air dengan ember.
Kedua
sahabat masa kecil itu selalu berusaha mengajak pemuda-pemuda seperti
itu untuk berbincang-bincang. Mereka selalu mengisahkan kisah hidup
mereka sebagai pembawa ember sampai kemudian menjadi pembangun saluran
pipa. Lalu mereka menawarkan bantuan, untuk membangun saluran pipa.
Tetapi hanya sedikit di antara mereka yang mau mendengarkan nasihat
mereka dan berusaha meraih peluang untuk melakukan usaha membangun
saluran pipa mereka sendiri. Memang menyedihkan, melihat banyak di
antara para pembawa ember menolak tawaran tersebut. Bruno sering merasa
heran dengan alasan-alasan yang selalu mereka kemukakan.
“Saya tidak ada waktu.”
“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”
“Hanya mereka yang terlebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”
“Seumur hidup, saya hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya tetap akan mempertahankan profesi saya itu.”
“Saya
tahu, ada orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa
seperti itu. Jadi saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tidak mau
merugi.”
Pablo dan Bruno benar-benar prihatin
melihat mental para pembawa ember ini. Ternyata ada banyak sekali orang
yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Tetapi akhirnya mereka
pasrah saja.
Mereka sadar bahwa hidup di dunia
yang masih didominasi oleh mental si pembawa ember ini, semuanya bisa
terlihat statis. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi
untuk mencapaui kesuksesan melalui saluran pipa. (jumadi subur, Siapa
Bilang Saya tidak Ingin Kaya?)
0 komentar:
Posting Komentar